Featured

KEBAYORAN VAN BANTEN

by - Mei 06, 2017

Sebagai yang kita ketahui daerah Kebayoran, Jakarta Selatan pada era 70-80an adalah perkampungan yang memiliki sawah, pohon, serta suasana yang asri seperti di serial televisi Si Doel Anak Sekolahan atau film Si Doel Anak Betawi yang salah satu pemerannya adalah tokoh sekaligus komedian asli Betawi, Benyamin Sueb. Kendaraan bajaj, delman, dan bemo masih menjadi kendaraan umum yang lumrah bagi penduduk di Kebayoran.

Gambar 1: Sinetron Si Doel yang menggambarkan kekentalan adat Betawi.
Kebayoran sendiri berasal dari bahasa Betawi "Kebayuran", yang bermakna penimbunan kayu bayur yang terkenal sebagai kayu kuat terhadap serangan rayap. Pada awalnya, Kebayoran adalah perkampungan dengan banyak kebun pada zaman kolonial, yang kemudian terpecah menjadi Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru pada zaman orde lama pada tahun 1959.

Pada era Ibu saya tinggal di Kebayoran Lama (sekitar 1980 akhir hingga 1990an), daerah tersebut mengalami penyusutan. Terjadi banyak pembangunan yang didirikan oleh sejumlah kalangan swasta maupun negeri. Daerah yang biasanya menjadi tempat pertanian dan perkebunan berubah menjadi lahan bisnis dan perekonomian.
Gambar 2: Sebuah mobil yang berjalan di jalanan raya daerah BSD, Tangerang.

Kali ini, saya memaparkan kejadian serupa dengan waktu dan tempat yang berbeda. Kejadian ini terjadi di barat Jakarta Selatan, Tangerang Raya. Kenapa Tangerang Raya sebagai nama daerah yang saya tulis? Sebab, Perubahan kondisi tidak hanya terjadi pada daerah satu kabupaten saja, melainkan terjadi pada beberapa kabupaten yang bernamakan Tangerang, seperti; Kabupaten Tangerang, Kabupaten Tangerang Selatan, dan Kota Tangerang.

Tangerang Raya sebagai daerah perekonomian yang menjadi momok bagi provinsi Banten mengalami kemajuan pesat dalam bidang bisnis dan perekonomian modern yang mengandung kapitalismenya. Fasilitas-fasilitas yang mulai berdiri membuat Tangerang Raya menjadi daerah satelit Jakarta yang sangat maju daripada daerah-daerah satelit Jakarta lainnya yang biasa disebut Jabodetabek. Kemajuan Tangerang Raya juga diikutinya dengan banyaknya perusahaan-perusahaan swasta yang mulai menjamur.

Gambar 3: Gambaran sebuah mall yang ada di Curug Sangereng, Tangerang.
Kita ambil contoh beberapa lahan yang berubah kian pesat yang termakan oleh perkembangan jaman dan peralihan alih lahan. Kelurahan Curug Sangereng, Kecamatan Legok, adalah salah satu contoh daerah yang pada tahun 1990an, tempat Curug Sangereng adalah pemukiman perkampungan yang dikelilingi oleh sawah dan hutan karet. Kepemilikian sawah dan hutan karet ini dimiliki oleh pemerintah kabupaten Tangerang. Namun, pada tahun 2004 keberadaan Curug Sangereng mulai merosot menjadi lebih sempit dan mulia tertutup oleh dunia luar. Curug Sangereng lahan-lahannya kemudian dibeli oleh pihak Swasta.

Sangat miris sebenernya akan keberadaan Curug Sangereng ini. Saya sebagai mahasiswa dari universitas yang dekat dengan lokasi tersebut, memiliki tempat makan nasi yang nikmat dan ekonomis di Curug Sangereng. Mirisnya, saya seringkali mendengar dari rekan-rekan mahasiswa dalam pengucapan Curug Sangereng sebagai Jalur Gaza (Seperti yang kita ketahui tentang Jalur Gaza adalah suatu daerah di Timur Tengah yang tersudut dalam penjajahan Israel). Keberadaan Curug Sangereng sekarang menjadi kian tertutup akan pembangunan pesat swasta yang menyelimutinya.

Begitu juga di daerah Kampung Sawah, kelurahan Lengkong Kulon, kecamatan Pagedangan. Daerah Kampung Sawah hingga tahun 2012 hanyalah diselimuti sawah yang sejuk dan asri. Perubahan lokasi sekitar Kampung Sawah begitu tampak ketika tahun 2014, pihak swasta mengubah sawah yang sudah terbeli menjadi lahan properti mewah. Kampung Sawah kian mengerucut dan beberapa rumah telah tergusur karena pembangunan tersebut.

Gambar 4: Pembangunan di daerah Tangerang.
Perubahan pesat yang terjadi di sejumlah daerah di Tangerang Raya ini, menjadikan Tangerang Raya sebagai surga bagi investor swasta dan asing juga sebagai neraka bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang terpencil maupun terpencilkan.

Kasus yang terjadi pada perkembangan Tangerang Raya ini adalah gambaran akan masyarakat yang terbelakang karena tergiur akan uang sehingga menjual apapun yang seharusnya menjadi momok bagi dirinya dan orang lain. Kasus perkembangan ini juga menjadi gambaran akan pihak swasta yang ingin meraup untung banyak tanpa mempedulikan kondisi masyarakat sekitar pembangunannya.

Modernisasi perkembangan adalah hal yang baik untuk mengembangkan potensi yang ada, tetapi juga bisa menjadi hal yang buruk bila itu merusak keberadaan suatu pemukiman. Bisa jadi dengan perkembangan ini, pemukiman-pemukiman seperti Curug Sangereng dan Kampung Sawah bisa menjadi pemukiman-pemukiman terpencil di Kebayoran yang terselimut total oleh kapitalisme yang berkedok perkembangan jaman.

You May Also Like

0 komentar

Instagram