Featured

MASIH PERLUKAH KESETARAAN GENDER DITERIAKKAN?

by - September 23, 2017

Seringkali diterikkan oleh sejumlah masyarakat dunia tentang kesetaraan gender untuk diperjuangkan, terutama dari kaum wanita di penjuru bumi. Seolah pernyataan berikut dengan mudahnya dipraktikkan oleh semua orang. Faktanya, seringkali berbalik dari apa yang dteriakkan sebagai kesetaraan gender.

Apakah masih perlu kesetaraan gender diteriakkan? Buktinya kebanyakkan pendukung gerakan ini juga belum mempraktikkannya. Karena yang maksud lain yang diminta dari teriakkan-teriakkan minta hanyalah agar wanita lebih dianggap keberadaannya di mata laki-laki.

Apa alasan saya berkata demikian? Faktanya gerakkan kesetaraan gender muncul setelah munculnya gerakan emansipasi wanita. Tidak hanya itu, secara istilah kesetaraan gender adalah: 

Gender equality is achieved when women and men enjoy the same rights and opportunities across all sectors of society, including economic participation and decision-making, and when the different behaviours, aspirations and needs of women and men are equally valued and favoured.
"Kesetaraan gender dicapai ketika perempuan dan laki-laki menikmati hak dan kesempatan yang sama di semua sektor masyarakat, termasuk partisipasi ekonomi dan pengambilan keputusan, dan bila berbagai perilaku, aspirasi dan kebutuhan perempuan dan laki-laki dihargai dan naungan yang sama."

Jika sudah diteriakkan tentang kesetaraan gender oleh pendukung gerakan ini, masih perlukkah ada kata "Ladies First"? Masih perlukkah kaum hawa menyatakan bahwa dirinya adalah kaum lemah dan tidak boleh ditindak secara kasar, seperti halnya kaum adam bertindak kasar ke sesama kaum adam, seperti pekerjaan yang berat?

Pandangan saya sendiri menyetujui terhadap gerakan Kesetaraan Gender. Saya sangat setuju untuk menyama-ratakan semua gender tanpa diskriminasi dan saling menghargai sesama manusia. Namun dalam penyama-rataan ini, berarti harus sama rata dalam penghargaan dan tindakan.

Tahukah kamu perbedaan kata adil dan sama-rata itu berbeda? Adil belum tentu sama rata, tetapi mencukupi porsi yang diperlukan agar cenderung stabil tanpa keberpihakkan. Sedangkan kata sama-rata, berarti mendapat porsi yang sama (tidak memiliki perbedaan). Kesetaraan gender sendiri seperti yang sudah dijelaskan, bahwa ketika perempuan dan lakik-laki menikmati dan kesempatan yang sama. Sehingga yang digunakan dalam permasalahan gender adalah kesetaraan (sama-rata) bukan keadilan (adil).

Lalu apakah kesetaraan gender harus diteriakkan oleh wanita? Saya rasa perlu diteriakkan oleh pria juga, sebab berbagai kasus juga tidak hanya dialami penyimpangan perlakuan gender oleh wanita saja. Berdasarkan riset ilmiah, yang bisa kamu temui di dunia maya bahwa wanita cenderung lebih menarik untuk mendapatkan pekerjaan daripada pria. Selain itu, wanita sendiri memiliki kecenderungan lebih tinggi daripada pria, namun masih saja menuntut lebih lagi dari pria.

Lingkup kecil kasusnya misalnya terjadi di kampus saya. Kesetaraan gender oleh pihak keamanan tidak berlaku lagi, sebab terjadi penyimpangan pemberian sanksi di antara dua gender. Di kampus saya mempunyai aturan untuk mahasiswa dan mahasiswinya menggunakan pakaian minim (singlet, celana pendek, rok pendek dll) dan menggunakan sendal.

Kesimpangan sanksinya pada dua gender adalah ketika wanita menggunakan pakaian mini sangat jarang ditegur oleh pihak keamanan kampus, sedangkan pria lebih mudah ditegur. Ada pengalaman teman perempuan saya menggunakan baju you can see di kampus berkeluyuran aman-aman saja tanpa teguran, sedangkan teman laki-laki saya berkeluyuran menggunakan singlet basket dengan mudahnya mendapatkan teguran oleh keamanan. Apakah itu adil secara gender?

Tak hanya itu, penggunaan sendal juga termasuk. Pada saat teman wanita saya menggunakan sendal gladiator (setelah saya pahami bahwa gladiator termasuk jenis sendal, bukan sepatu) berkeluyuran saat kuliah, ia aman-aman saja tanpa teguran keamanan kampus. Sedangkan teman saya yang pria, bahkan saya sendiri berkeluyuran menggunakan sendal gunung, dengan mudahnya ditegur oleh keamanan.

Dua kasus di atas membuktikan, bahwa cara pandang orang-orang terhadap gaya lebih mengutamakan kaum feminis. Sehingga wanita cenderung mendapatkan hak lebih-lebih daripada pria. Tapi mengapa masih ada keluhan dari wanita? Lantas mengapa orang-orang berpandang demikian? Kenapa tidak menyamaratakan hukum/peraturan kepada siapa saja tanpa memandang gender?

Kesetaraan gender ada saatnya tidak berlaku, bila itu memang mengenai cacat fisik atau sedang berkebutuhan. Semisal wanita sedang hamil, tentu saja kita tak bisa menuntut mereka berlaku lebih maskulin karena mereka mempunyai kebutuhan khusus. Tapi di saat semua baik-baik saja, kesetaraan gender haruslah berlaku tanpa ada manja-manja dan merasa lemah diantara yang lebih maskulin.

Berikutnya adalah beberapa contoh kasus yang mempertanyakan tentang gender equality yang sering diminta-minta oleh wanita, gambar-gambar berikut bersumber dari dunia maya:






Pembahasan saya tentang kesetaraan gender ini menggunakan sudut pandang laki-laki, sebenarnya juga banyak pelanggaran kesetaraan gender yang korbannya adalah wanitanya juga. Seperti pelecehan seksuel yang dialami oleh wanita yang sebenarnya telah menjaga kehormatannya dengan sandang dan perilaku, serta masih banyak kasus pelanggaran kesetaraan gender sendiri yang dialami oleh wanita juga yang disebabkan oleh para lelaki.

Realitnya memang seperti yang saya telah sebutkan tadi, tapi tulisan saya kali ini hanya menginginkan kesadaran yang pada dasarnya manusia hanyalah makhuluk yang saling menuntut lebih dari lainnya. Seperti nafsu akan harta yang tidak pernah ada habisnya ketika ambisi membutakan isi hatinya.

Sekian

You May Also Like

0 komentar

Instagram