Featured

BERTOLERANSI DENGAN INTOLERAN

by - Oktober 07, 2017

Seringkali kita meneriakkan istilah asing yang menggugah semangat kebersamaan kita untuk hidup di dunia, unity in diversity. Tapi apakah dalam segala keragaman kita sudah bertoleransi?

Secara bahasa, unity in diversity berarti bersatu dalam keragaman. Makna ini bisa dimaknakan kebersamaan dalam keragaman yang plural. Istilah ini juga bisa ditemui dalam semboyan ideologi negara kita, pancasila Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Selain itu juga istilah unity in diversity juga ada pada semboyan Amerika Serikat, E Pluribus Unum yang berarti dari banyak menjadi satu.

Negara-negara di dunia mengenal dengan istilah keragaman yang bertujuan untuk persatuan. Keragaman-keragaman yang dikenali dan cukup dihormati disetiap negara-negara, mengajarkan kepada masyarakat negaranya untuk bersikap plural terhadap segala hal perbedaan.

Tapi apakah yang disebut dengan diversity itu? Menurut organisasi Diversity Society, keragaman adalah sebuah aset yang memiliki dimensi unik seperti usia, skills, gender, status ekonomi, tingkat pendidikan, latar belakang, riwayat pekerjaan, status keluarga, minat, preferensi, dan perbedaan lainnya.

Kita sering mengatakan bahwa setiap orang adalah istimewa karena karakteristiknya yang beragam. Tidak semua orang memiliki kesamaan yang hakiki. Meskipun ada segelintir orang yang sama, tetap saja memiliki perbedaan, bahkan orang yang kembar pun memiliki perbedaan. Perbedaan itu sendiri ada agar mudah dikenali dan dipahami. Secara pertanyaan retorasi, bukankah anak kembar harus ditelisik perbedaannya agar mudah dikenali dan dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman?

Dalam keberagaman yang luas, terdapat satu aset keberagaman yang terpenting, yakni keberagaman pemikiran. Manusia begitu banyak jumlahnya, dan tentunya setiap manusia memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Seringkali terjadi perselisihan disebabkan perbedaan pemikiran, seperti halnya perselisihan para pemilik ideologi kapitalisme dan komunisme yang terjadi selama perang dingin. Tak hanya itu, pemikiran juga mencakup artian luas juga seperti agama, sehingga juga ada konflik kepemilikkan agama Islam dan Kristen di Ambon pada awal abad ke-21.

Setiap-setiap golongan pemikiran biasanya memiliki fanatik. Kebiasaan fanatik ini cenderung bersikap intoleran, sebagaimana yang dilakukan oleh ISIS, Ku Klux Klan, dan lainnya. Sikap yang terlalu mencintai golongannya bisa merusak diri dan menganggap orang yang di luar golongannya lebih rendah.

Agar kamu mencegah sikap intoleran kamu dan menjadi toleran, dapat diatasi pribadimu dengan peningktan kualitas komunikasi antar-budaya.

Menurut Julia T. Wood, beginilah cara kita meningkatkan kualitas komunikasi antar-budaya.

  1. Edukasi dirimu dengan segala pemahaman budaya lain. Bisa saja kamu tidak menerimanya, tapi di budaya lain ada nilai positif yang mungkin bisa kamu petik. 
  2. Kurangi ketidakpastian dengan menyimak, teliti persepsimu dan menjadi spesifik, sertakan juga umpan balik dalam berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakangnya
  3. Kenali perbedaan. Setiap manusia itu berbeda dan unik, dan hindarilah tindakkan pukul rata setiap orang yang berbeda, karena belum tentu semua orang bertindak sesuai dengan latar belakang yang dimilikkinya.
  4. Kurangi bertindak stereotipe kepada suatu budaya, kebiasaan menghakimi berdasarkan stereotip akan memperburuk kualitas persatuan komunikasi.
  5. Sesuaikan komunikasi kita, dengna memahami simbol (suatu yang menonjol dari latar-belakang, budaya, agama dan lain-lain) orang lain secara baik. Berbagi jugalah tentang simbol kita agar orang lain memahami latar belakang kita secara baik.
  6. Kurangi sifat entorsentris yang cenderung mengevaluasi nilai, kepercayaan, dan perilaku budaya yang kita anut sendiri sebagai yang lebih positif, paling benar, paling logis, dan natural dibanding budaya lain.
  7. Kelola juga akan kegoncangan budaya yang kita alami (culture shock). Culture Shock itu normal ketika memasuki budaya yang baru dan berbeda. Hadapilah dengan secara baik untuk kepentingan bersama dengan orang-orang yang berbeda.
  8. Hormati perasaan dan pikiran orang lain.

Jadi, dengan kita bisa meningkatkan kualitas komunikasi dan cara pandang kita terhadap sesuatu yang tak bisa kita toleransi, kita bisa mengerti dan saling menghargai tanpa harus pecah belah. Toleransi dan persatuan sendiri adalah harmoni kehidupan yang kita inginkan, bukan?

Salam Bhinneka Tunggal Ika!


You May Also Like

0 komentar

Instagram