Featured

KEBEBASAN BERGAYA DALAM PENAMPILAN

by - Oktober 21, 2017


Apakah kamu mempunyai patokan sendiri dalam gaya? Tentu ada sesuatu yang ingin kamu tonjolkan dari dirimu, entahkah jati diri atau apapun yang bisa memberi kesan atas eksistensimu sendiri.

Seringkali kita melihat gaya-gaya berpakaian dan penampilan pada sosok manusia, bahkan golongan sekalipun. Gaya-gaya itu sendiri muncul sebagai penggambaran karakter identitas mereka yang ingin dianggap berada (eksis). Namun seringkali identitas-identitas diri dipermasalahkan bagi mereka yang tidak menyukai, bahkan ekstrimnya ada yang anti terhadap gaya tersebut.

Keberagaman dalam berpakaian juga termasuk keberagaman 
secara universal.
Perlu diketahui, bahwa setiap budaya atau latar belakang memiliki simbol berbeda sebagai identitas mereka. Simbol-simbol dalam komunikasi antar budaya bisa berbagai macam, bisa seperti kebiasaan, cara ritual, gaya komunikasi, logat, aksen, bahkan pakaian sekalipun adalah suatu simbol untuk setiap kebudayaan.

Gaya  dalam penampilan sendiri juga menggambarkan latar belakang agama, budaya, atau pengaruh hidup yang diambil. Semisalnya, seorang muslim yang taat, sebagai identitasnya yang demikian pasti mengenakan gamis, peci, atau hijab (bagi yang muslimah). Atau semisalnya orang tradisional Papua, sebagai identitasnya yang memegang teguh tentunya mereka berpakaian cukup mengenakan koteka, rok rumbai atau taring babi. Misalnya lagi seorang pecinta lagu punk biasanya mempunyai ciri khas identitas mereka seperti rambut mohawk punk, memasang tindik, atau mengenakan jaket jeans yang biasanya di gunting bagian lengannya.


Tidak dipungkiri, gaya berpakaian seseorang memang untuk menjelaskan agama, suku, ras, bangsa, kesukaan, sumber pengaruh hidup, bahkan kebiasaan seseorang.
Lantas mengapa kita sering menstereotipkan hal yang buruk kepada gaya penampilan yang berbeda? Mungkin disebabkan pengalaman buruk seseorang atau dari orang lain yang dilakukan oleh seorang atau segelintir orang yang berbeda. Keselahannya adalah asumsi orang ini setelah mendapatkan pengalaman demikian, sehingga menganggap semua yang dari golongan si pelaku adalah sama dengan si pelaku.

Sudah banyak kejadian-kejadian diskriminasi terhadap cara berpenampilan di seluruh dunia, dan mendata keberadaan kasus diskriminas tersebut. Menurut The Guardian, 30% wanita muslimah yang mengenakan hijab di Eropa mengalami diskriminasi karena hijabnya. Di Indonesia sendiri, pakaian tradisional koteka dianggap mayoritas sebagai pakaian terbelakang.

Susi Pudjiastuti yang berambut acak-acakan dan merokok di pojokkan kesan prejudicenya seolah dia 'ngegembel', padahal ia akan membeli pesawat yang ada di acara Singapore Air Show 2010
Teman saya pernah berkata kepada saya bahwa yang mempunyai tato dan baju-baju metal, pastilah pelaku kriminal, tidak keperimanusiaan suka memukul orang. Setelah saya tanyakan mengapa berasumsi demikian, ternyata jawabannya ia pernah melihat di televisi bahwa orang-orang yang memiliki ciri serupa, pastilah penindak kriminal. Nyatanya, teman saya ada yang pecinta metal dan memiliki tato di tubuhnya, namun sikapnya amatlah berperikemanusiaan dengan menolong orang-orang yang disabilitas, sering mengadakan event untuk anak-anak yatim se-Tangerang.


Pengalaman pribadi saya, saya sering berpenampilan berantakan dan sederhana. Karena menurut saya, terlalu rapih seperti merepotkan diri sendiri, teurtamanya bagi saya menyukai perjalanan yang tak perlu merepotkan diri dengan penampilan. Jujur saja, saya juga kerap dibully karena penampilan saya, tapi saya memilih apatis. Karena toh menurut saya bully sendiri karena perasaan kita yang mudah baper  (Baca: Bully, Becanda dan Baper). Namun inilah identitas saya sebagai orang yang sederhana dan menyukai perjalanan dan tak mau ambil repot.

Carol (kanan)
Selain itu saya pernah memiliki teman wanita perjalanan saya waktu ke Lombok (baca: Backpackeran Ke Surga (Jogja-Lombok)). Selama perjalanan Carol selalu menggunakan pakaian terbuka. Padahal dalam perspektif mayoritas di Indonesia, bahwa wanita yang menggunakan pakaian terbuka adalah wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya. Lain faktanya dengan apa yang saya temukan pada Carol dan apa klarifikasinya, ternyata ia adalah orang yang sangat menghargai kehormatannya. Ia bahkan belum pernah melakukan hal buruk apa pun dengan pria. Lantas, tak perlu lagi menduga teman wanita saya ini wanita yang 'tidak baik'. Sedangkan mengapa ia menggunakan baju yang terbuka, karena menurut dia sendiri mudah kepanasan, kurang nyaman dengan baju tertutup dan menurutnya, tubuh bukan sesuatu yang mencerminkan baik atau buruknya seseorang.



Paragaraf di atas hanyalah klarifikasi saya untuk menuntut pembaca memahami, bahwa seseorang bisa terlihat buruk di matamu tetapi ada identitas yang sederhana di balik penampilannya, bahkan dia bisa jadi memiliki hati yang lebih mulia daripada kamu yang mengasumsikan keburukan seseorang. Padahal pepatah juga mengatakan, don't judge the book by it's cover. Jangan menilai buku hanya dari covernya.

Seharusnya perlu disadari betul, bahwa perbedaan bergaya dalam penampilan juga termasuk salah satu keragaman yang ada. Sebab dengan penampilan-penampilan yang beragam, kita bisa mengetahui bahwa terdapat banyak karakter dan latar belakang pribadi seseorang atau kelompok. Ketahui manusia memiliki simbol dalam tubuh dan apa yang mereka kenakan atau gunakan, ada filosofi tersendiri atas pengenaannya itu. Jangan menganggap suatu identitas atau latar belakang seseorang atau golongan itu lebih buruk atau lebih tinggi daripada kita, kita yang perlu belajar dan memahami keberadaan simbol-simbol tersebut.

You May Also Like

0 komentar

Instagram