Featured

RIZKI ALI AKBAR: BACKPACKERAN UNTUK MEMBUKA PIKIRAN

by - Desember 05, 2017


Backpackeran sering membawa kita ke kondisi budaya yang berbeda. Dengan begitu kita akan dapat mengenal manusia yang berbeda budaya dari kita.

Seperti Rizki Ali Akbar, pria asal Jakarta ini doyan traveling dan backpackeran untuk membuka pikiran terhadap dunia. Motto hidupnya adalah "Kita nanti kemana" daripada "Pribumi adalah koentji" yang memang saat itu, sedang panas-panasnya isu SARA.

Berikut adalah wawancara saya dengan Rizki Ali Akbar yang biasa dipanggil Ali, saat dihubungi.

Gimana sih awal mula bisa suka traveling?

Awal mulanya, 2008 gue dikenalin backpacking sama nyokap, destinasi pertama. Lombok. Tapi dengan cara backpacking ya.

Kalo misalnya pulang kampung itu enggak keitung. Gembolan pulang kampung itu banyak.
Dan yang bikin gue suka, itu perasaan bebas yang gue dapet pas lagi diluar, gak ada beban.

Kenapa berminat pergi traveling?

Pengen ngebuktiin ke temen-temen gue, kalo di dunia banyak tempat yang lebih bagus daripada kubikel kamar / gadget. Tanpa mengkreditasikan destinasi lokal, tapi shock theraphy paling cocok itu jalan keluar.

Apa saja persiapan yang dibawa jika pergi? Peralatan apa yang dibawa?

Persiapannya itu paling enggak tidur. Karena udah kebiasa backpacking, yang berarti nyari yang murah-murah. Budget diteken abis. Karena dilatarin nyari yang murah-murah, sering dapet flight itu jam 5 atau jam 6 pagi. Daripada bablas, mendingan gak tidur. 

Sama peralatan:
1. Backpack
2. Pakaian ganti
3. Jaket
4. Kamera
5. Hp
6. Charger

Bagaimana caramu sendiri menyelesaikan permasalahan dalam perjalanan itu sendiri, dan bagaimana menghindari kemungkinan permasalahan?

Menghindari kemungkinan permasalahan yang ada, sebelum jalan cari-cari informasi dulu online. Apa aja masalah yang kemungkinan bakalan didapat buat orang Indonesia, entah di destinasi lokal ataupun internasional. Walaupun enggak banyak, tapi ngebantu parah.

Permasalahan paling utama yang pernah gue rasain itu kendala bahasa sih.

Kalau pengeluaran, dari pengalaman gue. Itu bisa gede, bersumber dari 3. Tiket, penginapan, sama makan. 3 itu bisa ditekan, jalan-jalan murah. Tiket bisa ditekan pakai cara "pesan dari jauh jauh hari" atau bisa pakai free seat dari Air Asia, mereka biasanya ngadain promo itu. Penginapan, bisa numpang-numpang di rumah orang. Ada komunitas backpacker, namanya couchsurfing. Itu mereka sistemnya stay with local. Makan, karena nginep dirumah orang. Jadinya, makan dikasih.

Apa cerita terbaikmu selama traveling/backpackeran?

Ngeliat piramid sama mumi King Ramses langsung pakai mata kepala sendiri. Karena dari kecil, gue dicekokin sama buku sejarah, tontonan National Geographic yang ngebahas ancient history. Dan dapat kesempatan langsung buat ngeliat dan megang. Lo bakal dapet perasaan 'lost in time'.

Bagaimana caramu membagikan waktu antara jalan-jalan, kuliah dan kerja?

Gue biarin jalan begitu saja. Senin - Jumat, gue kerja buat salah satu perusahaan swasta, Sabtu- Minggu gue kuliah di kelas karyawan.

Apa goals kamu dalam kebiasaan melancong?


Enggak gampang norak, gak kepancing sama isu-isu murahan, karena lebih asik ngebahas "kita nanti kemana" daripada "pribumi itu koenjti".


Karena secara gak langsung, lo traveling, lo ketemu sama orang lain, liat budaya baru, berinteraksi sama orang lokal, itu bisa ngebuka pikiran lo. Dan lo juga lebih open minded buat terima perbedaan.

***

Itulah wawancara dan sedikit pembelajaran dari Ali. Kesukaannya dalam traveling membuatnya membuka pikiran. Jadi bagi kamu yang ingin mempelajari bagaimana gayanya dalam melancong, atau sekedar berkontak untuk melancong bersama, kamu bisa menghubunginya melalui akun sosial medianya.

Facebook: Rizki Ali Akbar
Instagram: babangali

Semoga menjadi inspirasi kamu untuk tetap jalan-jalan.

You May Also Like

0 komentar

Instagram