Featured

DRAMA PELARIAN DI ATAS PESONA INDONESIA

by - April 24, 2018

Judul: Tahta Mahameru
Terbit: 2012
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit: Republika

Buku ini berceritakan tentang Faras seorang wanita asal Ranu Pane, basecamp pendakian Gunung Semeru, Faras berkeliling Indonesia untuk bertemu seorang pria backpacker bernama Ikhsan yang pernah ia temui di Ranu Pane, berdasarkan dari surel-surel yang dikirimkan oleh Ikhsan kepadanya untuk menceritakan lokasi-lokasi kepergiannya.

Alasan mengapa Faras mencari Ikhsan, karena Ikhsan membawa dendam yang mendalam selama perjalanannya. Dendam tersebut disebabkan drama-ala-sinetron keluarganya antara ibu kandung yang meninggal disebabkan tekanan fisik dari ayah kandungnya dan ibu tirinya. Bahkan Ikhsan menghakimi Tuhan dalam dendamnya.

Dalam pencariannya mencari Ikhsan, di Borobudur, Faras bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Mareta. Mareta ikut dengan kepergian Faras hingga ke Sulawesi Selatan, karena Faras mendapatkan tiket pesawat murah. Hingga akhirnya diketahui dalam perjalanannya, bahwa Mareta adalah saudara tiri dari Ikhsan.

Buku ini mengenal pesona keindahan alam, adat dan budaya Indonesia dari tempat-tempat yang telah dituju oleh Ikhsan, Faras, dan Mareta. Tempat-tempat yang dijadikan setting cerita ini adalah Danau Toba, Candi Borobudur, Bantimurung, pantai Bira, dan Gunung Semeru. Perbedaan budaya disini juga ditampakkan.

Pembelajaran budaya dari tempat-tempat tersebut juga disebutkan dalam latar belakang Fikri seorang Bugis, yang pernah menjadi teman dekat Ikhsan untuk mendaki Semeru sebelumnya. Fikri sendiri terlibat dalam kasus Silariang (kawin lari) adiknya yang menikah dengan lelaki yang tidak direstui oleh ayahnya. Atas budaya keras bugis yang dimiliki keluarganya, Fikri harus membunuh suami adiknya dari perintah ayahnya. Peristiwa ini akhirnya mengakibatkan Fikri mati terbunuh ditangan suami adiknya saat berduel. Selain tentang Silariang, juga dikisahkan tentang pembuatan dan filosofi pembuatan kapal Pinisi oleh orang Bugis. Tak hanya budaya Bugis, pengenalan budaya sopan santun adat Jawa tergambar dalam karakter keluarga Faras untuk menyambut Ikhsan yang keras kepala saat pertama kalinya mendaki Semeru.

Hampir setiap pergantian bab buku, pergantian sudut pandang cerita terjadi. Terjadi 3 sudut pandang, antara “Aku-Kamu” dari sudut cerita Faras, “Lo-Gue” dari sudut pandang cerita Mareta, dan “Aku-Kamu” dari sudut pandang cerita Ikhsan.

Sayangnya dalam buku ini, quotes yang sering terucap selalu kata-kata dari Khalil Gibran melulu. Memang karena Faras yang sering menyebutkan quotes dari Khalil Gibran karena kecintaannya terhadap karya-karya Gibran. Namun dalam pengenalan tokohnya, Faras adalah orang yang sering membaca buku, tetapi dengan quotes Khalil Gibran yang sering diucapkan olehnya, seolah buku-buku yang sering dibacanya hanyalah karya-karya Khalil Gibran saja.


Dibandingkan dengan novel 5cm yang berlatarkan tempat yang sama, yaitu Gunung Semeru, novel ini mengisahkan pencarian jalan kembali kepada Tuhan dan kesetiakawanan untuk mencari jalan untuk memendamkan dendam. Sedangkan 5cm, hanyalah menceritakan perjuangan untuk mendaki Semeru, oleh sekelompok mahasiswa yang baru lulus kuliah dan memaksakan kehendak untuk mendaki.


Walaupun begitu, kehadiran novel Tahta Mahameru sendiri seolah hasil dari trend mendaki Gunung Semeru yang sudah diceritakan lebih dulu oleh “5cm” yang terbit di tahun 2005. Karena semenjak kehadiran “5cm”, trend berlomba-lomba mendaki gunung, terutama Semeru.

Buku Tahta Mahameru ini buku yang rilis sebagai juara kedua dalam lomba novel yang diadakan oleh Republika tahun 2011. Juri dari lomba novel ini adalah Salman Aristo dan Asma Nadia. Juara pertama dalam lomba tersebut adalah “Lontara Rindu” karangan S Gegge Mappangewa, dan juara ktiga “Bila Cinta Mencari Cahaya” karya Harri Ass Sidiqie.

You May Also Like

0 komentar

Instagram